ini mungkin yang terbaik ...tp ga tahu lah.... Read More...
waktu itu di kebun raya bogor
sekarang saatnya mencoba tampilkan gambar.....untuk percobaan, ada baiknya fotonya musa aja.
waktu itu kita lagi kedatengan "mbah Ola". untuk menghilangkan kebosanan di rumah, istriku menyarankan untuk jalan-jalan di kebun raya bogor. secara udah 2 tahun tinggal di bogor tapi belum pernah nyamperin tempat itu, aku anggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
akhirnya, hari yang dinantipun tiba. har jumat pagi kita pergi ke kebun raya bogor, nek SupraX dan Prima X ku. lha gimana lagi, kendaraan yang kita punya cuma itu, toh dengan dengan dua sepeda motor artinya kita udah punya kendaraan roda empat. betulkan??
sesampainya disama, musa langsung dilepas. namanya juga anak baru bisa jalan, rasa sombong itu pasti ada. dia langsung lari-larian sendirian ga mau dipegangin. awalnya aku merasa aman untuk musa, karena disitu jalan kan bagus, dan tidak ada kendaraan. yang ada hanya pejalan kaki. tapi beberapa menit kemudian aku hapus memori tentang "keamanan" itu tadi. ternyata banyak juga sepeda motor yang lalu lalang di jalan didalam kebun raya itu. dan yang disayangkan, pengendaranya adalah pegawai disitu. Read More...
Apa Ini Demokrasi? Demokrasi yang mana
Selasa, 26 Januari 2010masalah ejaan, selalu saja menjadi penghalangku saat mulai mau menulis....(peduli setan, yg penting latihan nulis)
Panitia Khusus, begitu aku mendengarnya...lebih familiar dengan sebutan Pansus. Di TvOne dan MetroTv, acara yang satu itu selalu menjadi liputan khusus yang tentunya memotong siaran rutin mereka. Bagaimana tidak, totonan yang satu itu justru lebih memikat para pirsawan televisi, mungkin karena acara itu lebih lucu dari acara humor sekalipun. Mungkin beberapa dari kalian berfikir bahawa acara tersebut adalah acara serius yang akan mementukan nasib bangasa kita kedepan....yah, itu sih terserah masyarakat. tiap orang punya penilaian masing-masing. episode ke episode sudah dilalui oleh pansus, sekarang kita sedang menunggu kesimpulan dari mereka.
saksi-saksi telah dimintai keterangan di depan anggota pansus, yang acara pemeriksaannya sendiri sudah seperti pengadilan di film india. "saksi" itu dicerca dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak umum layaknya pertanyaan. umum layaknya pertanyaan tuh yang gimana sih? menurut aku sih, yang namanya pertanyaan tuh adalah melontarkan pertanyaan tentang hal yang ingin kita ketahui lebih lanjut, tanpa ada upaya penjebakan di dalamnya. klo kita perhatikan, pertanyaan para dewan "yang terhormat" (semoga saja) saat meminta keterangan dari saksi, hampir semua mengarah ke jebakan....contohnya: (cuma ga persis saat pemeriksaan ya, kan ane ga inget detailnya, klo salah ya maap)
saat pemeriksaan Mr.MS....anggota dewan (BS) bertanya...."pada tanggal *** saudara saksi mengatakan bahwa******bertentangan dengan pasal 39, sehingga.......sda". apakah benar itu pendapat saudara?
masrilam menimpali "klo persis seperti itu, tidak"
BS, "tapi ini ada di harian**** tanggal*****
Mr.MS, "saya bilang pasal 38, bukan 39"
BS, "disini (menunjukkan kertas) memang tertulis 38, saya cuma mau ngecek, apa bapak masih ingat.......
yang ada di benak saya, andaikata Mr.MS jawabnya "ya" itu saya berpendapat demikian. bisa-bisa anggota dewan bilang anda ini plin-plan...tidak konsisten dsb....
itu cuma satu dari beberapa komedi yang terjadi. tp intinya yang akan saya sampaikan adalah, saya miris dengan keadaan bangsa ini. pansus itu dibentuk untuk mencari keterangan segamblang-gamblangnya....bukan mengadili. yang saya dengar, kesimpulan sementara pansus sedang dalam tahap penyusunan. anehnya lagi, kesimpulan akan disusun oleh masing-masing fraksi, yang nantinya akan diplenokan. nanti, kesimpulan akhir akan kita voting. mendengar kata kata Voting itu......waduhhhhh....ini gimana sih, mencari kebenaran kok lewat voting. klo voting sudah pasti yang banyak yang menang. klo orang yang salah lebih banyak dari yang benar, maka orang yang salah akan menjadi benar dan orang yang benar akan menjadi salah....
makanya....hindari voting....apakah demokrasi itu voting, atau hal yang berbeda????? Read More...
Selayang Pandang.....
Minggu, 20 Juli 2008“Pak, kripike tasih wonten,” tanya seorang Ibu. “ Tasih wonten. Kerso pinten bu,” Jawab Muslich dengan ramah. “
Belum usai meladeni pembeli, pembeli lain sudah datang untuk memesan kripik. Wahyu, 35 tahun, seorang perantau, sebelum kembali balik ke
Sayang, permintaan beberapa puluh bungkus Wahyu tidak bisa diladeni oleh penjaga warung. Kontan raut muka Wahyu langsung menunjukkan ekspresi kekecewaan. Beruntunglah di warung itu seorang pembeli sebelumnya mau berbaik hati. Udin 23 tahun, yang membeli kripik 20 bungkus rela membagi kepada wahyu 10 bungkus.
Kripik tales ini hasil produksi Muslich, 47 tahun, warga Manding Temanggung. Kripik ini sekarang banyak di minati orang karena rasanya yang khas “gurih dan renyah”. Makanan khas Temanggung ini sekarang sudah menjadi salasatu oleh-oleh favorit bagi para pemudik yang mau pulang balik ke
Sejak tahun 1990, Muslich bersama istrinya Intinah, 45 tahun, menekuni usaha pembuatan kripik tales, atau lebih dikenal dengan sebutan kimpul. Awal dari usaha ini adalah waktu itu Muslich ditawari adiknya untuk membuat kripik tales pesanan koperasi. Tanpa diduga, ternyata pesanan terus mengalir, hingga pekerjaan ini tidak bisa di tinggalkan.
Usaha ini tentunya tidak semulus yang dibayangkan orang. Berkali-kali Muslich menghadapi kendala, terutama kendala pemasaran. Tapi berkat etos kerjanya yang ulet disertai kesabaran yang cukup membuat dirinya konsisten tetap menekuni produksinya.
Kalau dulu Musclih hanya mampu mengedarkan di kalangan terbatas, sekarang produksinya hampir setiap hari selalu dibanjiri pesanan. Pemesan kripik ini tidak hanya dari Temanggung, tapi sudah menjalar sampai ke Wonosobo, Magelang, Yogyakarta dan bahkan sampai
Berkat usaha ini cita-cita Muslich untuk menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan Tinggi terlaksana. Ika Dwiyanti, 23 tahun, yang kini telah menyelesaikan studinya dari UGM. Adiknya Dwi Triyana Sari, 18 tahun masih kuliah di UII
Semua anak-anaknya dididik untuk wiraswasta. Sambil kuliah mereka ikut memasarkan kripik. Muslich juga bisa membeli tanah dan mendirikan bangunan tingkat dua yang sekarang di jadikan tempat produksi.
Usaha Muslich ini sekarang sudah berkembang, tetapi ia tidak cukup puas sampai disini. Masih banyak yang diinginkan Muslich dalam mengembangkan usaha ini. Salah satunya adalah membuat sebuah toko di pinggir jalan raya/show room untuk memajang produksi kripik Manding.
Selain kripik kimpul , Muslich juga memproduksi kripik sukun dan kripik pisang, semuanya diberi merek yang sama yaitu kripik Manding. Ternyata kimpul pun bisa dinikmati. Mau ngemil?
Read More...